Menciptakan Surga


Kenyamanan adalah surga
Tidak perlu ada istana megah, cukup rumah yg sederhana tapi memberikan kebahagiaan. Itulah surga.

Tidak perlu ada sungai susu atau khamar yg tidak memabukkan, cukup dengan air yang menyeka dahaga. Itulah surga.

Tidak perlu ada puluhan bidadari, cukup satu saja yg memberikan bahagia, itu sudah sempurna layaknya surga.

Menemukan surga tidaklah sulit dan juga tidak mudah. Kita hanya perlu berusaha lebih sambil menyelaraskan hati yang kita punya bahwa kita bisa segera menemukan surga tanpa harus menunggu kehidupan yang kedua.

Menciptakan surga adalah dengan memberikan kebutuhan jiwa. Menciptakan kondisi sekitar hingga kita dapat merasakan kenyamanan dan kesempurnaan cinta.

Lets make a heaven with ourself, our heart.

Advertisements

Looking For Stars


Sebuah kondisi yg bahaya ketika seseorang merasa sendiri di mana sebenarnya dia tidak sendiri.

Lalu, mengapa dia merasa sendiri. Apakah orang yg di sekitarnya tidak dianggap sebagai manusia? Aku heran dengan manusia yg demikian. Bagaimana mungkin dia menciptakan dunianya sendiri. Mungkinkah dia hanya sedang berkhayal. Aku pikir tidak juga begitu, dia hanya tidak menemukan seseorang untk disebut sebagai “teman”. Maka proyek yg harus dikerjakannya segera adalah mencari teman. Teman yg sebenarnya teman. Aku doakan semoga dia segera menemukannya.

Seseorang berkata teman yang baik itu layaknya bintang, tidak selalu terlihat tapi dia terus menerangi. Betapa indah sebuah persahabatan yg demikian. Seseorang yg memilki teman yg demikian pasti akan sangat merindukan sosoknya saat ia tak pernah bertemu lagi. Merindukan sebuah kebersamaan yang penuh keceriaan. Hanya saja mereka tak harus selalu berjumpa. Kadang ada saatnya salah seorang diantara mereka pergi untuk bertemu suatu hari nanti. Saat kepergiaan itu mereka akan menemukan pengganti. Cepat atau lambat, pasti akan dia temukan.

Lets Looking for Stars.

image

Orang Asing


Salah satu hal yang paling menyenangkan saat melakukan perjalanan adalah bertemu dengan banyak orang. Biasanya mereka adalah orang-orang asing. Tak pernah sekalipun kita berjumpa dengan mereka, dengan bahasa dan aksen yang berbeda. Alhamdulillah, masih bersedia pakai bahasa ibu pertiwi.

Oya, tentang definisi “Orang asing” ini agak sedikit berbeda bagi seseorang. Pasalnya ada yang menanggapku sebagai orang asing, meskipun kita sudah berjumpa setahun lamanya dan aku masih tetap dicap sebagai orang asing. Sebenernya aku agak tersentak ngilu dengan anggapnnya terhadapku sebagai orang asing. Aku ngobrol dengannya selama ini, tetap dianggap orang-orang yang perlu diwaspadai, sepertinya dia harus mengamalkan pesan para orang tua “Waspadalah terhadap orang-orang asing”.

Menemui orang-orang asing adalah bagian yang menyenangkan. Kita akan mendapatkan hal-hal baru bukan? pengetahuan baru, pengalaman baru, kenalan baru, atau mungkin hanya sekadar teman ngobrol. Tapi bukankah teman ngobrol itu penting sekali dikala tak ada lagi yg kita kenal. Kita saling tukar cerita tentang asal muasal, tujuan perjalanan, mengapa memilih melakukan perjalanan, seperti pertanyaan yang paling sering muncul “Mengapa kamu memilih kuliah di kota X”. Kadang ada yang nanya kuliah dimana, jurusan apa? lantas menanyakan ilmu seputar jurusan yang kita ambil *inibikinkeringatdingin.

Sepanjang perjalanan kita akan mendengarkan mereka bicara. Entah mengapa kadang terdengar agak lucu (bukan lucu yang gimana2), terhibur saja mendengarnya. Aneh, asing, dan khas, mungkin itulah diantara sebab yang membuatnya terdengar “lucu” (maaf aku nggk bisa menemukan diksi yang pas untuk ini). Oya, bisa jadi mereka yang mendengarkanku bicara juga merasakan hal yang sama dgn alasan yang sama. Aneh, asing.

Di sepanjang perjalanan, kita menjadi akrab, semakin nyaman berbicara, saling tukar pandangan. Kita kemudian menemukan kemiripan akan hal-hal tertentu. kemudian kita tidak lagi saling menyebut orang asing.
“Hei orang asing, mari berkawan baik!”
Sepertinya aku menemukan sebuah kesimpulan bahwa sesuatu yang kita kenal baik, orang-orang spesial dalam hidup kita bermula dari sesuatu yang asing.

“Hei orang asing, aku akan menemukanmu di sepanjang jalanku”

Jumat, 1 April 2016
di sepanjang perjalanan Purwokerto-Yogyakarta

Efek Sebuah Cerita


Saya senang dengan cerita, menguraikan cerita lewat kata. Meskipun  dengan kemampuan yang tidak memukau, biasa saja. Bercerita lewat tulisan mungkin lebih baik dibanding bercerita dengan lisan. Sebuah cerita akan mengantarkan pada sebuah perasaan, bisa jadi senang, sedih atau diantara keduanya. Kita sedang tidak paham kondisi saat itu. Sebuah cerita akan membawamu ke dunia lain, dunia yang bahkan tidak pernah disadari bahwa dia ada. Bukan hanya sekadar cerita. Sebuah cerita membawa sebuah pesan yang akan tertanam pada jiwa-jiwa yang terlarut di dalamnya. Lewat sebuah cerita, seseorang bisa saja terhipnotis, melupakan segala kesulitannya, menghiraukan kekurangannya, lantas tumbuhlah cabang-cabang keberanian yang bisa melampaui keterbatasan.

Bercerita bukan hanya dunia anak. Tapi anak-anak menyukainya, mereka adalah jiwa-jiwa yang paling senang dikisahkan cerita. Jika nama mereka termaktub didalamnya, maka jiwanya akan masuk lantas mengikuti alur kisah itu.

Suatu ketika, saya bercerita pada seorang anak. Namanya Salman, kelas 3 SD. Saya ceritakan padanya. Salman, suatu ketika di zaman Rasulullah terjadi sebuah perang yang disebut perang Khandak. Khandak artinya parit. Perang Khandak adalah titik nadir kehidupan Rasullah. Perang ini adalah perang 300 pasukan Rasulullah melawan 1000 pasukan Kafir Qurais. Posisi Rasullulah berada di Madinah sedang sang musuh berada di Mekah. Lalu, ada seorang sahabat Rasullulah mengusulkan sebuah strategi kepada Rasulullah. Sahabat ini mengusulkan untuk membuat sebuah Parit agar kuda-kuda pasukan kafir qurais tidak mampu melintasi medan perang menuju tempat pasukan Rasulullah. Rasulullah setuju, lalu dibuatlah parit itu yang berkedalaman 5 meter dan panjangnya 8 meter. Ketika pasukan Kafir qurais akan menyerang, mereka kelabakan dan tak mampu menyebrang, ketika menyebrang pun pasukan Rasulullah sudah siap menyergap dan mengalahkan musuh dengan mudah. Tahukah kau salman siapa nama sahabat Nabi Muhammad yang mengusulkan untuk dibangunnya parit itu?. Ialah SALMAN AL FARISI. Seperti namamu salman! Wajah Salman mengembang seketika, kupastikan adrenalinnya memuncak, ia terperangkap dengan kisahnya sendiri.

Salman! Kulanjutkan kembali kisahnya. Salman, saat itu atas izin Allah perang Khandak berhasil dimenangkan. Salah satu aktor didalamnya adalah kamu, seperti namamu. Ialah orang yang cerdas dengan perhitungan matematis dan ilmu fisika yang diterapkannya. Maka, Salman jadilah cerdas, karena bukan dengan cerdas, kamu bisa melakukan banyak hal,lalu kau memamerkannya kehebatan, bukan karena kamu cerdas kamu menjadi angkuh, tapi dengan kecerdasnmu hidupmu akan lebih berarti, kecerdasanmu akan memperluas peranmu. Begitulah Salman.

image

Sebuah cerita mengalirkan sesuatu yang ajaib. Sebuah cerita menjadi seperti sengatan semangat. Dengan kisah yang disampaikan lewat lisan, kita bisa melihat raut wajah, ekspresi dari orang-orang yang mendengarkan. Kita lihat wajah yang bersemangat ataupun mereka yang sama sekali tidak tertarik. Agak berbeda dengan cerita yang kita tulis, kita tidak bisa melihat langsung reaksinya. Bagiku disinilah titik yang menarik, kita tidak pernah tahu ekspresi mereka (pembaca) setelah membaca tulisan kita. Tetapi, bisa jadi di salah satu sudut kamar di dunia ini ada yang merasa sedang ditemani oleh tulisan kita, ada yang sedang mengalami kondisi yang serupa dengan inti sari tulisan, lalu tumbuhlah semangat yang kian membuncah di dadanya, atau bisa jadi ada seseorang yang berencana bunuh diri, tetapi membatalkan niatnya karena tulisan kita. Siapa yang tahu? So kawan, jika kamu memiliki sesedikit apapun kemampuan bercerita, sampaikanlah! Tidak perlu menunggu sampai menjadi seorang pencerita handar, atau penulis terkenal. Mari berbagi cerita!

Memenangkan Hidup


Ada saatnya kita harus bernafas lebih panjang biasanya. Nafas panjang adalah sejenis kemampuan untuk menyelesaikan sesuatu dalam waktu yang cukup panjang.

Dalam sebuah diskusi lesehan bersama kang Abik tempo hari. Beliau bilang “Untuk menulis novel yang mencapai ratusan halaman itu membutuhkan nafas panjang, kita harus memiliki satu tarikan nafas untuk mampu menyelesaikan tulisan yang kadang menghabiskan waktu bertahun-tahun.”

Bagian ini sungguh tak mudah, apalagi bagi para amatiran. Jangan puluhan atau ratasan halaman. Satu halaman saja, satu bait saja, atau bahkan satu kalimat saja belum tentu mampu tertulis dan membentuk makna. Sungguh tak mudah kawan.

Ada saatnya dimana kita harus berjalan lebih jauh dari biasanya. Kita juga tidak bisa memanfaatkan unta merah atau kendaraan terbaik, meskipun kita memilikinya karena untuk sementara kita hanya mampu mengandalkan apa yang sejatinya Tuhan berikan, sejenis kemampuan berjalan.

Ada saatnya kita tidak bisa mengusahakan apapun. Tidak ada satu pun jalan keluar. Satu-satunya pilihan adalah melupakan. Sebaiknya tak ada kata terucap, biarlah serahkan sepenuhnya pada yang menciptakan lupa.

Ada saatnya di mana semestinya kita marah. Meluapkan segala ketersinggungan, kecewa. Tapi kita memilih berlapang dada, memaafkan.

Ada saatnya di mana semestinya kita sampaikan, tapi kita memilih diam karena kita paham bahwa tidak semua apa yang kita rasakan harus diungkapkan, kita memilih mengendapkannya sejenak.

Dalam memenangkan hidup, kita tidak bisa sendirian. Paling tidak melibatkan Allah karena Allah tak pernah membuat kecewa.

Dalam memenangkan hidup, kita harus memilih yang terbaik dan membaikkan. Bukan menyiakan hidup karena perbuatan sendiri yang akan membuat kita menyesal.

image

Mari berjuang untuk memenagkan hidup!
Berjanjilah untuk pantang menyerah!

Tentang mereka (Kaum Introvert)


Mereka adalah anak manusia, bukan makhluk gaib karena kadang dianggap aneh.

Mereka menutup diri? ah tidak sepenuhnya benar, karena mereka jg berusaha untuk berbaur, melarut dalam cerita yang sama. Meskipun seringkali, mereka punya ceritanya sendiri.

Pendiam? mungkin iya, juga mungkin tidak. Mereka hanya ingin bicara saat mereka nyaman untuk menyampaikan. Kadang ia segan atau khawatir tidak nyambung, atau bisa jadi takut dicuekin, atau sedang tidak mood, atau atau atau…
Jika mereka sudah menemukan saat yg nyaman untuk berkata-kata, mereka akan menjadi sangat cerewet, mereka dengan mudah memainkan kata untuk bercanda, ingat untuk bercanda bukan berbohong. membuat suasana menjadi gempita.

Dalam diam mereka bisa mengamati dari berbagai arah. Setiap sudut memberikan kesimpulannya masing-masing. Mereka lalu menuliskannya hingga saat itu menjadi tak terlupa, atau kalaupun lupa, saat itu bisa diputar kembali.

Apakah mereka antikritik… hmm kurasa pemahaman itu tidak tepat. Bisa jadi dia agak sulit menerima pendapat orang lain, tapi dia mau mendengarkan. Bukankah dengan mau mendengarkan itu artinya dia bisa menerima.

Biasanya mereka lebih nyaman dan akrab berkawan dengan sesama kaumnya (red : introvert). Sepertinya mereka bisa saling memahami. oya, mereka jg senang berkawan dgn buku, film, atau hiburan lainnya. Mereka menikmatinya sendiri. Entah mengapa? mereka lebih nyaman bgitu.

Kawan, begitulah sedikit yang kutahu tentang mereka. Entah kamu punya pendapat lain atau tidak. Setidaknya ini apa yang kulihat sendiri.

Buka Dulu Hatinya           


download (1)

Source : Keepo.com

Pernah dengar ceramah salah seorang ustad. Dengarnya lewat rekaman audio. Well menurutku ini rekaman sangat berguna, jadi bukan hanya mereka yang menghadiri majelis ilmu yang mendengarkan tapi semua yang menerima file itu juga bisa turut mendengarkan. Insya Allah amalnya terus bertambah, terus bertambah….

Ok, tadi mau cerita apa. Ya, baiklah, salah satu bagian dari ceramahnya itu adalah… Ada seorang anak yang dititipkan oleh orang tuanya di sebuah pesantren. Orang tuanya ini adalah seorang pejabat yang terpandang namanya (high class-lah). Kiai yang menerima dititipkan harapan agar anak itu dapat lebih baik akhlaknya dan tentu ilmu keislamannya semakin baik. Sang Kiai tidak langsung mengajarkan ilmu kepada anak pejabat itu. Sang Kiai justru menyuruh anak itu membersihkan masjid dan kamar mandi setiap hari selama beberapa minggu. Jadi pelajaran pertama yang diberikan Pak Kiai untuk membuang rasa angkuh anak itu karena anak pejabat biasanya ingin diperlakukan istimewa, maka membuatnya merasa sama kedudukannya dengan yang lain adalah hal yang paling utama sebelum ia menerima pelajaran utama di pesantren.

Nah, beberapa hari yang lalu. Seorang dosen kami yang baru pertama mengisi kuliah pada hari itu memulai dengan cara yang agak berbeda dari dosen-dosen lainnya. Beliau membuka kuliah dengan menunjukkan beberapa ebook-ebook penting dan bermanfaat untuk dipelajari dan menjelaskan manfaat dari setiapnya. Kemudian beliau bertanya ini itu seputar mata kuliah dan kami seringkali menjawab “Lupa”. Oya kami memanggilnya pak Budi. Pak Budi lalu menunjukkan kenapa kami begitu mudah. Kenapa lebih banyak lupa? Itu karena kita tidak memakai hati. Ok, beliau mengambil sebuah contoh.

“Mas Sam, permainan apa yang paling diingat sampai saat ini,?”

“…., Main bentengan,”

“Bentengan itu seperti apa?”

Kemudian mas Sam menjelaskan dengan detailnya permainan itu

Pak Budi kembali bertanya “Itu berapa tahun yang lalu?”

“Waktu SD tahun 95, sekitar 19 tahun yang lalu”.

Nampaknya satu contoh belum cukup, pak Budi kemudian menanyakan kepada seorang Ibu yang usia 40 tahun.

“Ibu Leli, hal apa yang paling ibu senangi sewaktu kecil”

“Orang tua saya sering membeli buku dongeng.

“Dongeng yang paling ibu ingat sampai sekarang ?”

“Lima sekawan”

“Bisa ceritakan tentang buku itu?

Ibu Leli nampaknya sudah tidak begitu ingat lagi.

“Kalau begitu, masih ingat kalau salah satu tokohnya punya seekor anjing peliharaan?”

“Iya…”

“Itu sudah berapa tahun yang lalu?”

“Sudah lebih dari 25 tahun yang lalu”

Sudah lama sekali kawan, tapi memori masa kecil yang dilakukan sepenuh hati itu masih terekam meskipun tak begitu jelas lagi.

Kata Pak Budi “Belajarlah dengan menggunakan ini (Qalbu), Insya Allah tak akan mudah terlupakan!”

Well Pak Kiai dan Pak Budi memiliki cara yang sama dalam hal yang berbeda. Mereka memulai pembelajaran dengan membuka hati santri dan mahasiswanya sebelum masuk pada bagian inti pelajaran. Cara yang mungkin tak sering kita jumpai pada guru-guru kita.

Ok. Buka hati, Buka hati, Buka hati!

            “Dan sungguh akan kami isi nereka Jahannam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati tapi tidak dipergunakan untuk memahami Ayat-ayat Allah…” Al-Araf 179

Purwokerto,1 Ramadhan 1436 H/ 18 Juni 2015

Alhamdulillah ala kulli hal


Bismillahirahmanirahim

Alhamdulillah

Sumber gambar : images.frompo.com

                Sore yang mendung kemudian gerimis dan perlahan menderas, akhirnya pun berhenti. Di antara waktu itu, saya hadir di sebuah majelis ilmu. Damai sekali, bisa hadiri di sini (sebuah masjid berlantaikan kayu), sebuah masjid yang untuk pertama kalinya kukunjungi.

Temanya “Cara memohon jodoh”. Sebuah tema yang menarik dan membuat perasaan yang lain di dada para jomblo’ers. Sebuah ekspektasi bahwa suatu waktu akan bertemu dengan kekasih hatinya. Ah… apakah termasuk diriku? Hmm bisa jadi, bisa jadi.

Dimulai dengan sedikit canda dari ustad. Oya Ustadnya bernama Muh. Faudzil Adhim, ustad yang familiar dengan buku-buku kerennya. Well, isinya menarik. Mau tahu? Hmm sayangnya saya tak cukup kapabel untuk menyampaikannya. Jadinya saya ingin menuliskan bagian yang lain. Bagian yang memberi warna lain dari majelis ini.

Well, ini bagian sesi tanya jawab…

“Ustad, saya mau bertanya, tapi mungkin lebih banya curhatnya dari pada bertanya? Jadi saya suda dikhitbah oleh seorang ikhwan, tanggal pernikahan sudah ditentukan sekitar sebulan kemudian, tapi pada saat persiapan pernikahan sudah sekitar 75 %, ia memutuskan untuk tidak melanjutkan…” Suara terdengar parau, yang awalnya lebih jernih. “Kedua kalinya, ada seorang ikhwan yang sudah pada tahap yang serius dan kemudian mengaku kepada saya bahwa dia sudah memiliki seorang istri….” Suara akhwat ini lebih sendu, matanya mungkin berkaca-kaca. “Yang ketiga, ikhwan ini mengaku bahwa ia mengidap virus HIV. Apa nasehat untuk saya Ustad, pada saat-saat yang seperti ini. Dan saat ini ada seorang ikhwan lagi. Ada satu titik lagi bahwa pendidikan saya lebih tinggi darinya. Apakah kesekufuan pendidikan adalah sebuah masalah bagi para ikhwan? Syukron Ustad.” Akhwat itu mengakhir pertanyaannya.

Dan Ustad Faudzil Adhim menjawab “Ucapkan alhamdulillah ala kulli hal, bersyukurlah bahwa anda telah dijauhkan dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Masalah kesekufuan, laki-laki tersebut adalah seseorang yang mesti ditegarkan, meskipun kesekufuan itu semestinya hanyalah pada tingkat ketakwaannya kepada Allah SWT.” Jawaban singkat dan padat.

Pelajaran moralnya adalah bersyukurlah pada hal-hal yang tidak menyenangkan hatimu, pada sesuatu yang mungkin membuatmu bersedih karena pasti ada hikmah di balik setiap kejadian.

Alhamdulillah ala kulli hal

Segala puji bagi Allah pada setiap keadaan

Belajar dari SUSI


I Love Badminton. Sejak kecil saya amat menyenangi olahraga ini. Mungkin karena dari sekian banyak olahraga, bulutangkis adalah yang pertama kali kukenali. Hingga sampai sekarang, saya akan mencari informasi seputar bulutangkis bulutangkisIni olahraga yang memiliki satu kelebihan tersendiri. Gerakan atau pukulan-pukulan yang menawan menjadi hal yang memberi kesenangan tersendiri baik ketika menyaksikan orang lain bermain ataupun saya sendiri yang melakukannya.

Ketika menyaksikan pemain-pemain bulutangkis Indonesia. Saya sangat bersemangat menyaksikannya. Apalagi kalau nonton Riki/Rexy, Taufik Hidayat, Tantowi Ahmad, Lilyana Natsir, Hendra Setiawan, Ahsan, Greysia Polii, Nitya. Mereka semua pemain-pemain hebat. Mereka adalah idolaku. Para peraih medali kejuaraan internasional bahkan juara dunia dan juara olimpiade itu begitu mengesankan. Saya pernah menonton pertandingan-pertandingan mereka. Saat menyaksikan mereka bermain, saya teramat excited, ekspresif. Kadang, eh bukan kadang tapi sering sekali saya harus berteriak kencang, melepaskan ketegangan ketika permainan amat seru di poin-poin genting. Mereka hebat, punya mental juara. Sering kali ketinggalan, tapi berhasil mengejar. Dan tidak salah lagi MENANG. Kita pun menyaksikan haru biru merah putih berkibar seraya Indonesia terlantun dengan syahdunya. Kami bahagia, seketika hati ini bilang “I Love Indonesia.”

Tapi ada sosok hebat lain yang tidak saya sebutkan. Permainannya di lapangan hijau belum pernah kusaksikan sama sekali. Tapi malam ini saya seakan menyaksikannya. Merinding, merasakan semangat juang, mental juara, tekad baja, yang dipadupadakan dengan skill hingga menjadi kesempurnaan seorang tunggal putri kelas dunia. Awesome, Amazing!

Ialah SUSI SUSANTI

Oleh : Putra Permata T.I.

Sumber : FB Seputar Bulutangkis Indonesia

Apa Boleh Buat, Ia Susi Susanti

susi

Sumber : FB Seputar Bulutangkis Indonesia

Sudah sejak awal sekali Susi terlihat menonjol dan menjanjikan sesuatu yang besar. Saya tak ingat persis tahunnya, tetapi kalau tidak salah di kejuaraan Indonesia yunior, ia tampil di tiga nomor. Kalau tak salah, tiga-tiganya menjadi juara, salah satunya berpasangan dengan Ardy B. Wiranata di ganda campuran.

Ada satu kelebatan kejadian yang selalu saya ingat, ketika dalam sebuah pertandingan di kejuaraan itu, kemungkinan di ganda campuran, ia gagal mengembalikan bola sulit yang mampu ia jangkau. Berbeda dengan pemain lain yang cenderung tidak ekspresif, Susi memukul lantai dengan tangannya karena kecewa.

Saya tak pernah lagi melihat Susi mengekspresikan diri seperti itu (mungkin karena saya tidak selalu menonton pertandingan-pertandingan Susi). Tetapi Susi senior menjadi tembok beku yang jarang memuncratkan emosinya ketika bertanding. Ia dingin dan memilih memperlihatkan ekspresi tubuhnya dengan daya juang yang luar biasa dan (kepastian) kemenangan demi kemenangan.

Sebagai ganti dari ekspresi yang menggebu-gebu muncul aura magis seolah ia tak bisa kalah. Ketika orang terpaksa hanya bisa mengatakan, “apa boleh buat ia Susi Susanti.”

Bagi saya aura magis itu lahir di tahun 1989 di perebutan Piala Sudirman. Piala beregu campuran yang untuk pertama kalinya digelar dan Indonesia bertindak sebagai tuan rumah.

Indonesia sudah ketinggalan 0-2 di final dari Korea Selatan. Eddy Hartono dan Rudi Gunawan kalah dari pasangan Park Joo Bong dan Kim Moon Soo di partai pertama. Begitupun Verawaty Vajrin dan Yanti Kusmiati juga kalah dari Hwang Hye Young dan Chung Soo Young di partai kedua.

Susi bintang yang mulai menonjol. Harapan Indonesia bahwa akhirnya lahir pemain putri dari negeri ini yang akan mampu mendominasi dunia perbulutangkisan dunia. Hanya saja ia baru 18 tahun dan beban psikologis yang harus ditanggung terlalu berat saat itu.

Tetapi bukankah narasi atau skenario heroik kelahiran seorang bintang selalu pada situasi-situasi gawat? Lebih-lebih lagi harus dramatis?

Susi kalah di set pertama melawan Lee Young Suk 10-12. Di set kedua ia tertinggal 2-10, satu angka lagi Piala Sudirman akan diboyong ke Korea Selatan.

Susi seperti menggoda penggemar bulutangkis di Indonesia. Memainkan emosi penonton yang sudah luruh. Tiba-tiba saja sabetan raketnya lebih bertenaga dan akurat. Kakinya meloncat-loncat seringan kapas. Matanya tajam dan berbinar. Nafasnya yang kembang kempis ia sembunyikan. Seorang pendekar yang kemayu-gemulai hadir di lapangan.

3-10, 4-10, 5-10, 6-10, 7-10, 8-10, 9-10, penonton Istora terpesona. Penonton di layar TV tak tahu harus bereaksi seperti apa. Ajakan berdoa dari Sambas yang menjadi komentator, ia selalu mengajak berdoa kapanpun Indonesia bermain di cabang olahraga apapun, untuk kemenangan Susi seperti masuk akal.

Entah karena doa yang terkabul atau Susi memang sudah di atas angin, yang jelas Susi betul-betul mengunci lawan di angka 10. Ia menang 12-10.

Di jeda pertandingan sebelum set ketiga, salah satu yang juga tak terlupa juga dari pertandingan itu, penonton dibuat ternganga, Young Suk menangis beberapa kali ditampar pelatihnya. Susi juga sempat melihat dan saya yakin di hati kecilnya ia tahu akan memenangkan pertandingan. Seperti terbukti di set ketiga ketika ia menang mudah 11-0.

Kemenangan Susi yang paling junior dari anggota tim Piala Sudirman menggugah senior-seniornya. Dua partai berikutnya, Eddy Kurniawan mengalahkan Sung Han Kok dan Eddy Hartono berpasangan dengan Verawaty Vajrin mengalahkan Park Joo Bong dan Chung Soo Young.

Indonesia memenangkan Piala Sudirman. Dan seorang bintang benar-benar telah lahir. Susi Susanti namanya.

Semenjak itu menurut saya, kepastian kehebatan Susi tinggallah prosesi. Menyongsong sebuah keniscayaan. Dari berbagai kejuaraan internasional, Kejuaraan Dunia, Grand Prix, All England, Piala Uber, emas Olimpiade Barcelona 1992 adalah gelimang yang seperti tertakdirkan.

            Ialah idola baruku Susi Susanti. Yang tidak pernah kusaksikan kehebatannya di tayangan televisi nasional. Namun, membaca tulisan ini, seolah saya menyaksikan dengan nyata seperti apa sosok idola tanah air bagaimana gemuruh suara di Istora yang mendukungnya, bagaimana detik-detik menegangkan disana, bagaimana harunya menyambut kemenangan berharga dan lahirnya seorang pemain hebat. Ah… betapa saya merindukan pemain tunggal putri Indonesia yang bisa berbicara di berbagai kejuaraan dunia.

Dan kita semua pun berharap akan segera datang sesorang yang paling tidak mendekati seorang Susi dan menjadi idola baru di sektor tunggal putri Indonesia.

#HidupBulutangkisIndonesia